Membangun Pendidikan Dayah

작성: Perkumpulan MEUMADA 2010년 11월 7일 일요일 오후 8:47
Teuku Zulkhairi – Opini

IDE untuk menulis artikel ini sebenarnya merupakan kesimpulan setelah penulis melewati lika-liku pendidikan di dayah dan kampus.

Reintegrasi (penyatuan kembali) konsep dan metodologi pendidikan dayah dan perguruan tinggi Islam akan menjadi model pe

ndidikan Islam ideal di masa depan. Dalam hal ini, reaktulisasi kurikulum dayah saya rasa menjadi hal yang mendesak diberlakukan di dayah-dayah di Aceh. Reaktualisasi yang penulis maksdukan disini adalah penataan kembali kurikulum dayah agar mampu berkiprah dan menyesuaikan perannya dengan perkembangan zaman dan harapan masyarakat luas. Harus kita akui, stagnasi kontribusi dayah dalam keilmuan kontemporer dewasa ini adalah karena dayah melepas diri dari metodologi dan kurikulum yang sanggup menjawab kebutuhan zaman dan masyarakatnya di era kontemporer. Dayah terkesan antipati terhadap pelajaran-pelajaran Islam kontemporer sekalipun.

Padahal, dalam sejarah Islam di Aceh, dari sisi normatif-historis, dayah memiliki peranan besar dalam membangun masyarakat yang berbudaya dan berkeadaban. Tak jarang banyak ilmuan sosial baik dari dalam maupun dari luar negeri mencatat peran dayah ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kultural masyarakat Aceh dalam semua dimensi kehidupan. Sebut saja misalnya Martin Van Bruinessen, Islamisis berkembangsaan Belanda, ia menyatakan bahwa dayah tidak bisa saja kaya dengan berbagai literatur keilmuan, tetapi juga mampu memberikan konstribusinya bagi masyarakat di sekitarnya. Dayah bahkan telah menjadi sub kultur di tengah masyarakat. Pada tataran teritoral, ekspansi kontribusi dayah juga mencapai skala regional dan bahkan internasional.

Fakta bahwa kurikulum pendidikan di dayah yang tidak memenuhi standar untuk bergulat di kehidupan kontemporer pada skala regional dan internasional tentu saja merupakan sebuah PR besar yang harus diselesaikan secepatnya. Misalnya; hingga saat ini dayah-dayah di Aceh tidak begitu memfokuskan diri untuk mengajarkan peserta didiknya dengan pelajaran-pelajaran seperti fikih dakwah kontemporer, pelajaran penulis artikel/karya ilmiah, tarikh islami, tarikh tasyri’, ulumul hadis, ulumul quran, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman saya, kedua pelajaran terakhir ini hanya diajarkan jika santri sudah berada pada kelas tertentu, yaitu kelas 6 hingga seterusnya. Atau setelah 6 tahun santri menimba ilmu di Dayah. Hal ini akan menjadi masalah sebab tidak semua santri bisa bersabar hingga 6 tahun untuk mondok di dayah.

Hal ini misalnya seperti pengakuan beberapa peserta testing beasiswa kuliah untuk teungku/santri dayah di Depag Aceh beberapa bulan yang lalu. Beberapa peserta dari dayah yang padahal sudah ngaji kelas tinggi yakni jenjang kitab Al-Mahalli (Qalyubi wa Umairah), namun kesulitan untuk menjawab soal-soal testing seperti ulumul hadis dan sebagainya, sebab beberapa materi pelajaran ini tidak mereka terima saat belajar di dayah (Serambi Indonesia, 23 Juli 2010). Begitu juga misalnya seperti pengakuan seorang pimpinan dayah kepada saya beberapa waktu lalu, ia menyebut, merupakan PR besar bagi dayah untuk mereaktulisasi beberapa kurikulum pembelajarannya. Saya kira sudah saatnya dayah memberlakukan beberapa mata pelajaran ini ke dalam kurikulum pembelajaran secara ketat. Mislanya dengan menerapkannya untuk santri sejak kelas 1 atau 2. Dan hal ini tidak sulit untuk dipraktikkan.

Selain itu, santri dayah tradisional juga tidak memiliki kelemahan karena tidak mampu berbicara dalam bahasa Arab. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kurikulum pelajaran bahasa Arab percakapan yang diajarkan di dayah-dayah tradisional. Hal ini dapat difahami, karena dayah memfokuskan metode pembelajaran bahasa dari aspek qawa’id (grammar). Namun di sisi lain, banyak santri dayah yang kurang mahir menulis tulisan Arab dan berbicara dalam bahasa Arab. Hal ini adalah salah satu implikasi dari “keringnya” proses pembelajaran bahasa dari kitabah dan muhadatsah. Akibat lain dari “kekeringan” ini adalah orientasi menuntut ilmu di dayah tidak mencapai taraf melahirkan kitab-kitab ilmiah. Hal ini berbeda dengan ulama-ulama klasik. Setelah menuntut ilmu sekian lama, mereka menuangkan hasil pemikirannya dalam lembaran-lembaran kertas yang ditulis dalam bahasa Arab, sebagai salah satu amal jariyah yang tidak terputus pahalanya.

Selain itu, hingga saat ini dayah-dayah tradisional di Aceh juga banyak yang belum begitu menganggap penting program tahfizhul Quran kepada para santri-santrinya. Padahal, kemampun hafal Alquran dan Hadis sangat dibutuhkan oleh para santri ketika kelak ia berbaur di masyarakat. Segudang persoalan masyarakat membutuhkan kemampunnya yang integral untuk membantu menyelesaikannya. Sebab, tentu saja kemampun fikih saja(sebagai pelajaran utama di Dayah) sangat tidak memadai untuk terjun ke masyarakat. Ataupun jika dipaksa, maka akan berakibat banyaknya persoalan yang diselesaikannya yang padahal justru lari dari paradigma Islam. Sebenarnya, persoalan ini bahkan bisa dipecahkan hanya dalam jangka waktu minimal 3 atau 4 tahun. Caranya, dayah secara kolektif bisa melakukan sebuah terobosan dengan mengirim para santri-santrinya untuk belajar di tempat yang memiliki program bahasa Arab atau lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki kemampun untuk bersaing. Setelah santrinya menimba ilmu di tempat tersebut ia bisa ditugaskan untuk mengabdi di dayahnya. Untuk pendanaan pihak Dayah bisa bekerja sama dengan berbagai pihak penyandang dana (donator). Atau bisa juga dayah-dayah mendirikan lembaga zakat sendiri sebagai bekal mensukseskan semua impian ini melalui organisasi persatuan dayah seperti Inshafuddin, HUDA, NU dan sebagainya.

Selain itu, pemerintah lewat Badan Pembinaan Pendidikan Dayah(BPPD) juga memiliki kesempatan besar jika serius ingin memajukan lembaga dayah dan merevitalisasikan kembali perannya. BPPD bisa membuat program beasiswa untuk santri dan teungku-teungku dayah untuk belajar di luar daerah dan kemudian pulang untuk memajukan daerahnya. Begitu juga dengan mengirim para pimpinan dayah di Aceh untuk melakukan studi banding ke luar daerah dan juga ke luar negeri jika memungkinkan agar mereka mendapatkan inovasi-inovasi baru yang konstrutif dalam memajukan pendidikan dayah. Jika untuk memfasilitasi beasiswa untuk mahasiswa pemerintah bisa membuat komisi semacam Komisi Beasiswa Aceh (KBA), lalu kenapa untuk memfalitasi dunia dayah tidak dilakukan juga hal yang sama? Saya kira ini tidak terlalu sulit jika pemerintah dan dunia dayah sendiri serius ingin berubah mengikuti irama dunia yang dinamis dengan tetap berpegang teguh pada kaidah almuhafazah ‘alal qadim as-shalih, wal akhzhu bi aljadid ashlah. Tetap memelihara sesuatu yang baik, dan juga mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik, dengan melakukan adopsi, kreasi yang inovatif untuk kemajuan pendidikan Islam di Aceh. Dengan demikian dilema pendidikan dayah di Aceh insya Allah akan berubah menjadi sebuah kebangkitan luar biasa yang sanggup menjawab tantangan zaman.

* Teuku Zulkhairi adalah alumnus Dayah Babussalam Matangkuli-Aceh Utara, mengajar di Dayah Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Kruengkale-Aceh Besar.

http://serambinews.com/news/view/42278/membangun-pendidikan-dayah

Tinggalkan komentar

Filed under BABUSSALAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s